Suatu
negeri dimana tak ada lagi kefanaan
tak
ada lagi kebohongan
Dan
tak ada lagi fantasi
seta
imajinasi …
Yang
tersisa hanyalah keabadian
Yang
ada hanyalah kekal
Dan
disaat itu…
Tahta
tak mampu jadi perisai
Mahkota
tak sanggup jadi tameng pelindung
Bahkan
harta tak mampu jadi pusaka
Saat
itu..
Singgasanamu
hanyalah kepalsuan
yang
tak mampu menjadi mata air harapan
dalam
gersangnya nurani.
Kursi
kerajaanmu sekedar imajinasi sesaat
yang
tak sanggup menjadi binar penolong
dalam
kelamnya asa.
Di
negri itu…
Tahta
dan hartamu yang fana itu
Hanyalah
hiasan ilusi
yang
tak piawai menjadi benteng penyelamatmu.
Kemewahan
yang selalu kau banggakan itu
hanyalah
aurora sesaat dalam bukit fantasi
yang
tak bisa menjadi ornamen dalam kesengsaraan.
Di
negri itu…
Semua
bersujud pada keagunganNya
Memohon
ampunan dan harapan
Karena
hanya amal yang mampu jadi pahlawan
Laksana
oasis dalam gurun keterpurukan
Hanya
fitrah yang menjelma menjadi penolong
Ibarat
pelangi dalam badai kegundahan
Hanya
ilmu yang sanggup jadi penyelamat
Bak
cahaya putih yang membelah lorong kelam kesedihan
Lantas,
apa yang telah engkau persiapkan
untuk
celenganmu di masa itu wahai insan ?
Apa
yang akan kau persembahkan untuk
menghadapNya
kelak?
Dan
apa yang akan engkau bawa
sebagai bekalmu di negeri keabadian itu?
Puisi di atas menggambarkan tentang suatu alam yang
kekal yaitu alam akhirat yang dalam puisi tersebut digambarkan sebagai “negri
keabadian”. Seperti yang kita ketahui, memang dunia ini hanyalah dunia yang
fana. Dan setelah kematian, manusia harus mempertanggungjawabkan segala
perbuatannya selama hidup di dunia. Tak ada perbuatan sekecil apapun yang tak
akan mendapatkan balasan. Ibarat kata pepatah “Siapa yang menanam maka ialah
yang akan memetik buahnya”. Maka semua perbuatan baik manuasia akan dibalas
dengan hal yang baik pula. Begitupun sebaliknya, perbuatan jahat akan dibalas
dengan keburukan yang amat pedih. Dan itu berlangsung selama-lamanya. Bayangkan
saja, ternyata waktu 1000 tahun di dunia hanyalah sehari waktu di akhirat.
Bayangkan betapa meruginya orang-orang yang tidak mau berbuat baik selama hidup
di dunia, maka ia akan mengalami penyiksaan dan pembalasan atas perbuatannya
untuk selamanya.
Dan pada masa itu, tak akan ada lagi kebohongan.
Karena mulut tak dapat lagi membela diri dan berdusta. Mulut kita akan terkunci
dan anggota tubuhlah yang akan menjadi saksi nyata atas segala perbuatan kita
di dunia. Lantas apakah yang mampu menyelamatkan kita di masa itu? Salah satu
hal yang dapat menyelamatkan kita disaat itu adalah amal dan ilmu yang kita
miliki.
Berbicara masalah ilmu, menuntut ilmu adalah sebuah
kewajiban bagi semua umat manusia baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan kata
bijak mengatakan “Tuntutlah ilmu dari buaian Ibu sampai liang lahat”. Sejak
kita dilahirkan ke dunia ini, memang kita sudah mulai belajar tentang suara,
warna, termasuk wajah orang tua kita. Dan proses belajar kita harus terus
berlanjut sampai di liang lahat. Jadi, menuntut ilmu bukan hanya sebuah
keharusan, melainkan sebuah kebutuhan bagi manusia. Manusia butuh menuntut ilmu
sejak ia lahir ke dunia sampai meninggal. Karena dengan ilmu, manusia dapat
meraih kesuksesan di dunia, bahkan juga di akhirat kelak. Arti kesuksesan itu
bagi saya adalah disaat kita dapat meraih semua impian dan cita-cita kita di
dunia, mampu menjadi orang yang memberikan manfaat untuk banyak orang di dunia
serta menjadi orang yang tidak merugi di akhirat kelak.
Jadi, sebagai manusia kita harus menuntut ilmu untuk bekal hidup kita di dunia, dan yang penting juga untuk bekal kehidupan kita di alam akhirat yang kekal nantinya.


0 komentar:
Posting Komentar